KLENTENG BOEN TEK BIO TANGERANG

 

Klenteng Boen Tek Bio terletak di persimpangan jalan Bhakti dan jalan Cilame, Pasar Lama, Tangerang. Tepatnya di jalan Bhakti No. 14 Kota Tangerang, Banten – Indonesia. Berbicara tentang Klenteng Boen Tek Bio tidak terlepas dari sejarah Kota Tangerang dan keberadaan orang Tionghoa di Tangerang.

 

Mengenai kedatangan orang Tionghoa pertama kali ke Tangerang belum diketahui secara pasti. Dalam kitab sejarah Sunda yang berjudul "Tina Layang Parahyang" (Catatan dari Parahyangan) disebut tentang kedatangan orang Tionghoa ke daerah Tangerang. Kitab tersebut menceritakan tentang mendaratnya rombongan Tjen Tjie Lung (Halung) di muara sungai Cisadane pada tahun 1407. pada waktu itu pusat pemerintahan ada di sekitar pusat kota sekarang, yang diperintah oleh Sanghyang Anggalarang selaku wakil dari Sanghyang Banyak Citra dari Kerajaan Parahyangan.

Perahu rombongan Halung terdampar dan mengalami kerusakan juga kehabisan perbekalan. Daerah tujuan yang semula ingin dikunjungi adalah Jayakarta.

Gelombang kedua kedatangan orang Tionghoa ke Tangerang dalam buku “Nusa Jawa Silang Budaya” pada tahun 1740 dibawah pimpinan Gubernur Jendral AndriaanValckenier tejadinya pembantaian masal terhadap masyarakat Cina, de Chinezenoord yang berada di benteng Belanda (binnenstad) lebih dari 10,000 orang dibantai Belanda, mereka korban berbagai peraturan yang membatasi ruang gerak mereka, orang cina menyatakan ketidakpuasan mereka kemudian dituduh merencanakan pemberontakan dan hendak mengenyahkan VOC (Veneenigde Oostindische Compagnie), yang luput dari pembantaian mencari pemukiman baru di Tangerang, diantaranya kampung Teluk Naga. Mereka disebut cina benteng artinya cina yang berasal dari benteng (binnenstad).

Belanda yang berhasil memadamkan pemberontakan tersebut mengirimkan orang-orang Tionghoa ke daerah Tangerang untuk bertani. Belanda mendirikan pemukiman bagi orang Tionghoa berupa pondok-pondok yang sampai sekarang masih dikenal dengan nama: Pondok Cabe, Pondok Jagung, Pondok Aren dsb. Disekitar Tegal Pasir (Kali Pasir) Belanda mendirikan perkampungan Tionghoa yang dikenal dengan nama Petak Sembilan. Perkampungan ini kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan dan telah menjadi bagian dari Kota Tangerang. Daerah ini terletak di sebelah timur sungai Cisadane, daerah Pasar Lama sekarang.

Gelombang ke tiga setelah kemerdekaan R.I terjadi peristiwa Juntai atau penjarahan di Tangerang Aksi penjarahan baru terjadi kembali pada saat bala tentara Jepang mendarat di Jawa. Tentara Belanda yang mengundurkan diri dari kota-kota besar mendobrak dan menjarah toko-toko P&D yang ditinggalkan pemiliknya untuk mengungsi.

Perbuatan tersebut telah mendorong rakyat yang hidup serba kekurangan untuk meniru tindakan anggota-anggota militer Belanda tersebut. Maka terjadilah perampokan -perampokan dan penjarahan-penjarahan toko-toko dan rumah-rumah orang Tionghoa yang ditinggalkan pemiliknya untuk mengungsi. Kerugian paling banyak dialami orang-orang Tionghoa di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Ratusan pabrik milik orang Tionghoa dihancurkan pasukan Belanda yang sedang mengundurkan diri.

Tetapi puncak dari aksi-aksi anti Tionghoa adalah pada masa sebelum dan sesudah Agresi Belanda. Pada bulan Mei 1946, sebanyak 635 orang Tionghoa, termasuk 136 orang perempuan dan anak-anak di daerah Tangerang dan sekitarnya telah menjadi korban pembunuhan. 1.268 rumah etnis Tionghoa habis dibakar dan 236 lainnya dirusak. Diperkirakan ada 25.000 orang pengungsi di Jakarta yang datang dari daerah tersebut.

Berdirinya Klenteng Boen Tek Bio diperkirakan sekitar tahun 1684. Para kongsi dagang perkampungan Petak Sembilan secara gotong-royong mengumpulkan dana untuk mendirikan sebuah klenteng yang diberi nama Boen Tek Bio. (Boen = Sastra, Tek = Kebajikan, Bio = Tempat Ibadah). Menurut Claudine Salmon dalam bukunya “Chinese Epigraphic Materials in Indonesia menyebut Boen Tek Bio sebagai “Klenteng Kebajikan Benteng” atau Wen De Miao.

Bio yang pertama berdiri diperkirakan masih sederhana sekali yaitu berupa tiang bambu dan beratap rumbia. Klenteng ini dibangun oleh masyarakat dengan mendatangkan tukang-tukang langsung dari Tiongkok sehingga bentuk dan arsitekturnya mencerminkan sifat Tionghoa asli. Prasasti kayu pemujaan terhadap Kwan Im disumbangkan oleh Huang Chun Wei dari Xibin tertanggal tahun 1805.

Menurut cerita, bangunan yang sekarang dibangun pada tahun 1775, prasasti tertua tertanggal tahun 1805, namun klenteng itu agaknya berdiri pada abad 18, Yunghun, yang berkunjung pada tahun 1884 mencatat bahwa klenteng itu tidak banyak berbeda dengan kelenteng lainnya yang ada di Batavia, kelenteng ini telah diperbaiki beberapa kali, terutama pada tahun 1904.

Pemujaan YMS Kwan Im Hud Cou, yang menjadi tradisi rutin 12 tahunan adalah upacara arak-arakan “gotong toapekong” yang dilaksanakan setiap tahun imlek shio Liong (tahun Naga) bulan ke – 8 (Pe-Gwee). Sebuah prasasti tulisan dibatu yang di set oleh Kapten Huang Zhaoyang, prasasti ini berisikan informasi menarik mengenai festival megah, Jiao (gotong toapekong), yang diselenggarakan setiap 12 tahun sekali, peristiwa ini pertama kali dilakukan tahun 1856 untuk memperingati kembalinya Kim Sin dari klenteng Boen San Bio ke klenteng Boen Tek Bio setelah di adakan renovasi besar.

Berbeda dengan kebanyakan klenteng yang ada di Indonesia maupun yang ada di negri Tiongkok, Kelenteng Boen Tek Bio mempunyai satu tradisi yang sudah berlangsung selama ratusan tahun yaitu apa yang dikenal dengan nama Gotong Toapekong. Setiap 12 tahun sekali yaitu saat tahun Naga menurut kalendar Tionghoa, didalam Kota Tangerang berlangsung arak-arakan joli Ka Lam Ya, Kwan Tek Kun dan terakhir Joli Kwan Im Hud Couw.